Berawal dari Les Privat, Mahasiswa UTM Ini Kini Buka Peluang Kerja bagi 13 Tutor

Iklan Semua Halaman

Post ADS 1

Header Menu

Berawal dari Les Privat, Mahasiswa UTM Ini Kini Buka Peluang Kerja bagi 13 Tutor

Kamis, 20 Agustus 2026
foto: Rif


JURNALREPORTASE.COM, BANGKALAN — Berawal dari kegemaran mengajar, Rika Wulandari perlahan membangun usaha yang tak hanya menghasilkan pemasukan, tetapi juga membuka peluang kerja bagi mahasiswa lain. Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa semester VII Universitas Trunojoyo Madura (UTM), perempuan 21 tahun itu kini mengembangkan Intelligent Growth Private (IGP), layanan les privat yang telah memiliki 22 siswa dan menggandeng 13 guru tutor.


Perjalanan Rika membangun usaha tersebut tidak terjadi secara instan. Ia mulai mengajar les privat sejak semester III, setelah sebelumnya sempat bekerja di sebuah kafe. Dari aktivitas mengajar itulah muncul pengalaman sekaligus kepercayaan dari masyarakat yang kemudian menjadi modal untuk membangun layanan les privat secara mandiri pada akhir 2025.


Ide mendirikan IGP berawal dari semakin banyaknya warga di sekitar tempat tinggalnya di Jalan Jokotole Gang 3, Bangkalan, yang meminta Rika membantu pendidikan anak-anak mereka. Kepercayaan tersebut kemudian berkembang menjadi peluang usaha yang membuat layanan IGP kini menjangkau sejumlah wilayah, mulai dari Bangkalan, Telang, Kamal, hingga kawasan Bancaran di Bangkalan bagian utara.


“Awal buka les privat itu karena banyak yang minat, terutama warga sekitar. Mereka percaya karena katanya saya telaten dan bisa membuat anak-anak paham,” ujar Rika, Rabu (19/08/2026).


Bertambahnya jumlah siswa membuat Rika menyadari bahwa ia tidak mungkin menangani seluruh proses belajar seorang diri. Ia kemudian membuka kesempatan bagi guru tutor lain untuk bergabung. Dari sinilah IGP berkembang bukan hanya sebagai layanan les privat, tetapi juga menjadi wadah bagi mahasiswa yang ingin memperoleh pengalaman dan penghasilan sembari tetap menjalani perkuliahan.


Saat ini, sebanyak 13 guru tutor bergabung dengan IGP untuk menangani para siswa. Rika juga memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan TikTok sebagai sarana promosi agar layanan yang dibangunnya semakin dikenal masyarakat.


Menariknya, Rika menerapkan pola kerja sama yang menurutnya tetap memberikan keuntungan secara adil bagi para tutor. Ia tidak mengambil potongan dari honor yang menjadi hak guru pengajar. Keuntungan IGP diperoleh melalui selisih biaya yang dibayarkan oleh orang tua siswa.


“Misalnya biaya mengajarnya Rp160 ribu, saya tambahkan menjadi Rp180 ribu. Rp160 ribu tetap menjadi hak guru tutor, sedangkan Rp20 ribu menjadi bagian saya,” jelasnya.


Bagi Rika, angka keuntungan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan IGP. Ia justru melihat usaha tersebut sebagai ruang untuk membantu mahasiswa lain yang membutuhkan pekerjaan fleksibel dan bisa menyesuaikan dengan jadwal kuliah.


“Senang karena sudah bisa membantu mereka yang memang niat mau bekerja sambil kuliah. Mereka juga bisa mendapatkan penghasilan sendiri,” katanya.


Mengelola usaha sambil berstatus mahasiswa tentu bukan perkara mudah. Rika harus membagi waktu antara perkuliahan, mengelola siswa, berkomunikasi dengan orang tua, hingga mengatur para tutor. Namun, kesibukan itu terbayar ketika ia melihat perubahan yang dialami siswa setelah mendapatkan pendampingan belajar.


Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika mendampingi siswa yang sebelumnya belum mampu membaca dan menulis. Setelah melalui proses pembelajaran secara bertahap, kemampuan anak tersebut mulai menunjukkan perkembangan.


“Awalnya anak belum bisa membaca sama sekali, kemudian setelah diajar akhirnya bisa. Pasti ada rasa bangga,” tuturnya.


Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinan Rika bahwa usaha yang dibangunnya bukan hanya tentang mempertemukan guru dengan siswa. Ada proses pendidikan, pemberdayaan dan kesempatan yang berjalan bersamaan di dalamnya.


Ke depan, Rika berharap IGP dapat terus tumbuh dan semakin mendapat kepercayaan dari masyarakat. Ia juga ingin memperluas kesempatan bagi mahasiswa lain untuk bergabung sebagai tutor sehingga semakin banyak anak muda yang dapat memperoleh pengalaman sekaligus penghasilan tanpa harus meninggalkan kewajiban akademiknya.


Bagi Rika, keberhasilan IGP bukan semata-mata diukur dari bertambahnya jumlah siswa atau besarnya pendapatan. Lebih dari itu, ia ingin usaha yang dirintis sejak bangku kuliah tersebut menjadi bukti bahwa sebuah kesempatan kecil dapat berkembang menjadi ruang belajar, ruang bekerja, sekaligus memberikan manfaat bagi orang lain. (Rif/Red)