![]() |
| Helwa Cholik bersama Suami. foto: Farid |
JURNALREPORTASE.COM, SURABAYA — Pengalaman dikucilkan dan diremehkan oleh lingkungan pernah menjadi bagian dari perjalanan Helwa Cholik. Namun, alih-alih menjadikannya alasan untuk berhenti, pengalaman tersebut justru mendorong Helwa untuk membangun dirinya melalui media sosial hingga merambah dunia bisnis kecantikan.
Saat ini, Helwa dikenal sebagai influencer yang aktif membuat konten seputar kecantikan, perawatan diri, gaya hidup, dan pengalaman personal. Di tengah aktivitasnya sebagai kreator konten, ia juga mengembangkan Fahelora, brand skincare yang menjadi bagian dari langkahnya di dunia usaha.
Perjalanan itu tidak terjadi secara instan. Sebelum dikenal melalui media sosial dan memiliki bisnis sendiri, Helwa lebih dulu melewati fase ketika dirinya merasa tidak mendapat penerimaan dari lingkungan sekitar.
Situasi tersebut sempat membuatnya berada dalam posisi sulit. Ada perkataan dan perlakuan orang lain yang membuatnya merasa diremehkan. Namun, Helwa kemudian memilih mengubah cara pandangnya.
"Saya pernah berada di fase ketika merasa dikucilkan dan diremehkan. Tetapi saya kemudian berpikir, kalau saya terus memikirkan perkataan orang lain, saya tidak akan pernah berkembang. Dari situlah saya mulai belajar untuk fokus pada diri sendiri dan apa yang ingin saya capai," ujar Helwa.
Ia kemudian mulai serius membangun kehadiran di media sosial. Konten yang dibuatnya tidak hanya berkutat pada satu tema. Helwa mencoba berbagi mengenai kecantikan, perawatan diri, gaya hidup, sekaligus pengalaman yang ia jalani.
Dari aktivitas tersebut, perlahan terbentuk personal branding yang menjadi modal penting bagi perjalanan berikutnya. Interaksi dengan audiens dan perkembangan dunia digital membuat Helwa melihat bahwa media sosial tidak sekadar menjadi ruang untuk berekspresi, tetapi juga dapat membuka peluang ekonomi.
Kesempatan itu kemudian ia kembangkan melalui Fahelora.
Helwa memilih masuk ke industri skincare dengan membawa gagasan yang tidak semata-mata berorientasi pada bisnis. Ia ingin brand yang dibangunnya memiliki keterkaitan dengan pengalaman personal yang pernah dilaluinya, terutama soal kepercayaan diri.
"Fahelora bagi saya bukan hanya sebuah bisnis. Ada cerita, perjuangan, dan proses di dalamnya. Saya ingin orang yang menggunakan produk Fahelora juga mendapatkan semangat bahwa mereka berhak merasa percaya diri dan berani menjadi versi terbaik dari dirinya," ungkapnya.
Membangun bisnis di tengah persaingan industri kecantikan tentu bukan perkara sederhana. Helwa harus terus belajar, membaca peluang, memahami kebutuhan konsumen, sekaligus menjaga konsistensi dalam membangun kepercayaan audiens.
Baginya, pencapaian yang diraih saat ini merupakan hasil dari proses yang berlangsung bertahap. Tidak ada perubahan besar yang datang dalam semalam.
Pengalaman tersebut sekaligus menjadi gambaran bagaimana media sosial telah mengubah cara anak muda membangun karier. Dari sebuah akun media sosial, seseorang dapat membangun personal branding, membentuk komunitas audiens, sekaligus mengembangkan peluang usaha.
Helwa pun tidak lagi menempatkan komentar orang lain sebagai penentu arah hidupnya. Ia memilih menjadikan hasil dan proses sebagai jawaban atas berbagai penilaian yang pernah diterimanya.
"Jangan jadikan omongan orang sebagai batas untuk menentukan masa depan kita. Kalau hari ini kita diremehkan, tidak berarti kita akan selamanya berada di bawah. Terus belajar, terus bekerja, dan buktikan dengan hasil," pesannya.
Bagi Helwa, perjalanan tersebut kini bukan lagi tentang membalas orang-orang yang pernah meremehkannya. Fokusnya bergeser pada bagaimana terus mengembangkan diri dan memastikan apa yang telah dimulai dapat tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar.
Dari pengalaman merasa dikucilkan, Helwa menemukan dorongan untuk membangun kepercayaan dirinya. Dari media sosial, ia membangun personal branding. Dan dari sana, lahir keberanian untuk memasuki dunia bisnis melalui Fahelora.
Perjalanan Helwa menunjukkan satu hal: penilaian orang lain tidak selalu menentukan sejauh mana seseorang bisa melangkah. Kadang, keputusan untuk tetap bergerak justru menjadi awal dari perubahan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. (Rahman)

Komentar