Kuliah Sambil Jualan, Mahasiswi STKIP Bangkalan Rintis Usaha Siwil hingga Cireng

Iklan Semua Halaman

Post ADS 1

Header Menu

Kuliah Sambil Jualan, Mahasiswi STKIP Bangkalan Rintis Usaha Siwil hingga Cireng

Jumat, 21 Agustus 2026

 

Nur Laylatul Khoiriyah Syaka, 21, mahasiswi semester V Program Studi Pendidikan Matematika yang memilih mengisi waktu di luar perkuliahan dengan merintis usaha kuliner.
foto: Antika


JURNALREPORTASE.COM, BANGKALAN — Kesibukan sebagai mahasiswa tak selalu menjadi alasan untuk menunda langkah menjadi mandiri. Hal itu dibuktikan Nur Laylatul Khoiriyah Syaka, 21, mahasiswi semester V Program Studi Pendidikan Matematika yang memilih mengisi waktu di luar perkuliahan dengan merintis usaha kuliner.


Dari rumahnya di Desa Tunjung, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan, Nur Laylatul menjalankan usaha makanan ringan berupa siwil goreng, bakdabak, dan cireng. Usaha tersebut mulai dirintis sekitar satu hingga dua tahun terakhir, bermula dari langkah sederhana dengan menawarkan dagangannya kepada orang-orang terdekat.


Tak disangka, respons positif dari tetangga dan teman membuat usaha kecil tersebut terus berjalan. Pesanan yang datang perlahan menumbuhkan keyakinan Nur Laylatul untuk mengembangkan bisnisnya sembari tetap menyelesaikan pendidikan.


“Awalnya cuma coba-coba nawarin ke tetangga dan teman dekat, tapi ternyata responsnya bagus dan ketagihan,” ujar Nur Laylatul, Kamis (20/08/2026).


Bagi Nur Laylatul, berjualan bukan semata-mata soal mendapatkan tambahan uang saku. Aktivitas tersebut menjadi caranya belajar mandiri secara finansial sekaligus mengurangi ketergantungan kepada orang tua. Dari usaha itu pula, ia mendapatkan pengalaman yang tidak selalu diperoleh di ruang kelas, mulai dari mengatur pesanan, melayani pembeli, hingga memahami cara menjalankan bisnis.


Aktivitas jualan biasanya dimulai sejak sore. Nur Laylatul membuka pelayanan sekitar pukul 15.00 WIB dan berlanjut hingga sekitar pukul 20.00 WIB. Rumah menjadi pusat produksi sekaligus tempat pembeli mengambil pesanan.


“Biasanya saya mulai jualan atau melayani pesanan dari sore jam 15.00 sampai malam sekitar jam 20.00,” katanya.


Untuk memudahkan pelanggan, ia menerapkan sistem pre-order dan juga menerima pesanan secara daring. Pesanan tertentu dapat diambil langsung di rumah, sementara untuk layanan COD atau pengantaran ke sekitar kampus dan rumah, ia biasanya menempuh jarak sekitar 1–3 kilometer menggunakan sepeda motor.


Pelanggan yang datang pun cukup beragam. Selain mahasiswa, jajanan buatannya turut diminati warga sekitar, termasuk anak-anak yang mengikuti les beserta orang tua mereka. Namun, semakin banyak pesanan berarti semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi, terutama dalam membagi tenaga dan waktu dengan kewajiban akademik.


“Tantangan terbesarnya jelas di manajemen energi dan rasa lelah. Kadang kalau tugas kuliah lagi menumpuk barengan sama jadwal pesanan jualan yang ramai, rasanya lumayan menguras fisik,” ungkapnya.


Di tengah kesibukan tersebut, Nur Laylatul berusaha menjaga agar aktivitas bisnis tidak mengganggu perkuliahan. Ia menyusun jadwal harian dan menentukan skala prioritas. Ketika memasuki masa ujian atau jadwal akademik sedang padat, jumlah pesanan yang diterima pun dikurangi.


“Kalau memang jadwal kuliah lagi padat banget seperti saat ujian, saya bakal batasi kuota pesanan jualan sementara waktu,” ujarnya.


Keputusan untuk membatasi pesanan bukan berarti mengendurkan ambisi. Justru, Nur Laylatul ingin usaha yang dibangunnya perlahan dari lingkungan sekitar tersebut bisa berkembang lebih jauh. Ia membayangkan siwil, bakdabak, dan cireng buatannya kelak memiliki tempat usaha sendiri dengan sistem pengelolaan yang lebih profesional.


“Harapannya, usaha jualan siwil, bakdabak, dan cireng ini bisa terus berkembang, makin dikenal luas, bahkan kalau bisa punya outlet sendiri yang lebih tertata,” harapnya.


Perjalanan Nur Laylatul menunjukkan bahwa dunia perkuliahan dan kewirausahaan dapat berjalan beriringan. Dari sela-sela jadwal kuliah, ia bukan hanya mencari tambahan penghasilan, tetapi juga sedang membangun pengalaman dan keberanian untuk menjadi seorang wirausahawan sejak muda. (Antika/Red)