![]() |
| Foto: istimewa |
JURNALREPORTASE.COM, BANGKALAN - Suasana Balai Desa Banyuajuh, Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan, Rabu (21/5/2026), tampak berbeda dari biasanya. Sejumlah pejabat pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga perwakilan Bank Dunia berkumpul dalam kegiatan Diskusi Lapangan dan Knowledge Sharing Pemantauan Percepatan Penurunan Stunting yang digelar melalui kerja sama Kementerian PPN/Bappenas bersama Bank Dunia.
Forum ini menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus evaluasi lapangan terhadap upaya percepatan penurunan stunting yang selama ini dijalankan pemerintah daerah dan masyarakat desa. Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Sekretariat Wakil Presiden, Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Desa PDT, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Keuangan, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Kementerian PPN/Bappenas, Bank Dunia, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Bangkalan, unsur Pemerintah Kecamatan, Puskesmas, Tenaga Pendamping Profesional, hingga kader pemberdayaan desa.
![]() |
| Foto: istimewa |
Perwakilan Bank Dunia di Indonesia, Gerda M. Gulo, mengatakan kunjungan tersebut merupakan bagian dari dukungan Bank Dunia terhadap Pemerintah Indonesia dalam percepatan penanganan stunting yang telah berlangsung sejak 2018.
“Tujuan kami datang ke sini adalah menjadi bagian dari program yang didukung Bank Dunia bersama Pemerintah Indonesia dalam percepatan penanganan stunting. Kegiatan seperti ini kami lakukan setiap enam bulan bersama pemerintah untuk melihat bagaimana implementasi program berjalan di daerah,” ujarnya.
Gerda menjelaskan, Bangkalan dipilih karena dinilai memiliki praktik baik yang menarik untuk dipelajari secara langsung. Menurutnya, pihaknya ingin mendengar pengalaman para pelaku di lapangan yang selama ini menjadi ujung tombak penanganan stunting.
“Kami ingin berdialog langsung dengan bapak dan ibu semua, karena yang menjalankan penanganan stunting di daerah sesungguhnya adalah bapak dan ibu sendiri. Kami ingin mengetahui bagaimana program ini bisa berhasil di tingkat desa, kecamatan, puskesmas, hingga koordinasinya dengan pemerintah kabupaten,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa masukan dari daerah menjadi bahan penting untuk merumuskan strategi pengembangan program ke depan, termasuk mengidentifikasi berbagai tantangan yang masih dihadapi masyarakat dan pemerintah daerah.
Sementara itu, Senior Health Specialist dan Senior Health Economist Bank Dunia, Dr. Chrystelle Opope Oyaka Tshivuila Matala, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh jajaran pemerintah pusat maupun daerah atas komitmen dalam menurunkan angka stunting.
“Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada seluruh pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, khususnya Pemerintah Kabupaten Bangkalan. Merupakan kehormatan bagi kami bisa hadir di sini untuk belajar langsung dari pengalaman dan strategi yang telah dilakukan dalam mengatasi stunting,” tuturnya.
Menurutnya, Bank Dunia bersama Pemerintah Indonesia terus berupaya mendukung pencapaian target nasional penurunan stunting. Desa Banyuajuh bahkan telah lebih dahulu dikenal di tingkat pusat karena dinilai berhasil menjalankan berbagai program pencegahan stunting secara efektif.
“Kami mendengar tentang kinerja yang sangat baik dari Desa Banyuajuh hingga di Jakarta. Karena itu kami merasa penting untuk datang langsung, bertemu masyarakat, melihat praktik yang dijalankan, dan belajar dari pengalaman di sini,” katanya.
Ia berharap pengalaman Desa Banyuajuh dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia dalam memperkuat langkah percepatan penurunan stunting.
“Pelajaran yang kami dapatkan dari wilayah ini diharapkan bisa membantu daerah-daerah lain di Indonesia dalam upaya menurunkan stunting,” imbuhnya.
Kepala Desa Banyuajuh, Lutfi, menyambut baik dipilihnya desanya sebagai lokasi diskusi lapangan dan berbagi pengetahuan bersama pemerintah pusat dan Bank Dunia. Menurutnya, perhatian tersebut menjadi motivasi besar bagi pemerintah desa dan masyarakat untuk terus memperkuat program kesehatan dan pemberdayaan keluarga.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan penanganan stunting di desa tidak terlepas dari kerja sama seluruh elemen masyarakat, mulai dari kader kesehatan, tenaga pendamping, puskesmas, hingga dukungan pemerintah daerah.
“Kami merasa bangga dan bersyukur karena Desa Banyuajuh bisa menjadi tempat belajar bersama. Ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, khususnya dalam upaya pencegahan stunting. Keberhasilan ini tentu bukan kerja satu pihak saja, tetapi hasil gotong royong semua elemen,” ujar Lutfi.
Diskusi berlangsung hangat dengan berbagai pemaparan pengalaman lapangan, tantangan pelaksanaan program, hingga strategi kolaborasi lintas sektor. Kehadiran para pemangku kepentingan dari pusat hingga desa diharapkan mampu memperkuat sinergi dalam mewujudkan target nasional percepatan penurunan stunting di Indonesia. (Rahman)

Komentar
