![]() |
| Foto: istimewa |
JURNALREPORTASE.COM, SURABAYA - Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35, denyut politik organisasi kian terasa bergerak di balik layar. Di tengah dinamika itu, Khalilur R. Abdullah Sahlawiy yang akrab disapa Gus Lilur menawarkan cara baca yang tak biasa melihat kontestasi NU melalui kacamata “paslon”. Istilah yang tidak dikenal dalam struktur resmi NU ini justru dipandang mampu membongkar realitas hubungan kuasa yang sedang bekerja.
Bagi Gus Lilur, kepemimpinan NU tak pernah berdiri dalam satu garis tunggal. Rais Aam dan Ketua Umum selalu hadir sebagai dua poros yang saling terkait, membentuk keseimbangan sekaligus arena tawar-menawar.
“Kepemimpinan di NU selalu merupakan hasil konfigurasi. Tidak pernah tunggal,” tulis Gus Lilur dalam keterangan resmi, Selasa (28/4/2025), menggambarkan bagaimana keputusan organisasi lahir dari pertemuan banyak kepentingan.
Dalam konteks itu, mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang secara formal memilih Rais Aam tidak sepenuhnya bisa dipahami sebagai ruang independen. Justru di situlah, menurutnya, pertarungan paling awal berlangsung. Komposisi AHWA menjadi kunci siapa yang masuk, di situlah arah keputusan mulai ditentukan.
Isu mengenai langkah Saifullah Yusuf yang disebut tidak menghendaki masuknya Nurul Huda Jazuli dan Kafabihi Makhrus ke dalam AHWA menjadi contoh konkret bagaimana arena ini bekerja. Meski masih sebatas dinamika yang berkembang, sinyal tersebut memperlihatkan bahwa kontestasi sudah berlangsung jauh sebelum forum resmi dimulai.
Di sisi lain, preferensi terhadap figur Rais Aam juga mulai membelah arah dukungan. Said Aqil Siradj disebut berada dalam spektrum dukungan tertentu, sementara Miftachul Akhyar tetap dipertahankan oleh poros lain. Tarik-menarik ini bukan sekadar soal figur, melainkan soal arah NU ke depan.
Peta kekuatan pun berkembang dalam beberapa lapisan. Yahya Cholil Staquf masih berada dalam posisi strategis untuk melanjutkan kepemimpinan, meski belum memastikan pasangan Rais Aam yang akan menguatkan langkahnya. Sementara itu, Saifullah Yusuf memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan internal sekaligus membuka kemungkinan konfigurasi baru.
Di luar itu, jejaring politik yang lebih luas turut memberi warna. Keterkaitan dengan Partai Kebangkitan Bangsa dan Kementerian Agama Republik Indonesia menghadirkan dimensi baru dalam kontestasi. Nama Nazaruddin Umar bahkan masuk dalam bursa Ketua Umum, menandakan bahwa Muktamar kali ini tidak bisa dilepaskan dari lanskap politik nasional.
Forum IKA PMII turut menjadi ruang konsolidasi yang menarik untuk dicermati. Dari sana, muncul kemungkinan terbentuknya koalisi besar lintas jaringan.
“Jika komunikasi itu berujung pada kesepakatan, maka peta bisa berubah drastis,” demikian analisis yang berkembang. Bahkan, tidak menutup kemungkinan hasil akhir telah mengerucut sebelum Muktamar resmi digelar.
Namun, sebagaimana tradisi NU, semua kalkulasi itu tetap harus berhadapan dengan realitas kultural yaitu peran kiai pesantren. Dalam banyak momentum, faktor ini menjadi penentu yang mampu membalikkan skenario yang telah disusun rapi.
Di tengah ketidakpastian itu, satu hal menjadi jelas, bahwa konfigurasi lama tidak lagi sepenuhnya relevan. Tidak berlanjutnya pola pasangan sebelumnya membuka ruang tafsir tentang adanya pergeseran strategi dan orientasi. Gus Lilur melihat ini sebagai tanda bahwa NU sedang berada dalam fase penting pencarian arah.
Komunikasi antarfigur pun terus berlangsung. Upaya pendekatan kepada Said Aqil Siradj oleh Yahya Cholil Staquf menunjukkan bahwa ruang kompromi masih terbuka. Namun, jika skenario itu tidak terwujud, sejumlah nama alternatif seperti Asep Saifuddin Halim dan Ma'ruf Amin mulai masuk dalam perhitungan.
Pada akhirnya, Muktamar NU ke-35 tidak sekadar menjadi ajang pemilihan pemimpin, melainkan titik temu dari berbagai arus besar: politik, tradisi, dan kepentingan organisasi. Melalui pembacaan “paslon”, Gus Lilur seolah ingin menegaskan bahwa di balik setiap keputusan, selalu ada proses panjang yang membentuknya.
“Ini bukan sekadar soal siapa memimpin, tetapi ke mana NU akan dibawa,” tulisnya. Sebuah penegasan bahwa Muktamar kali ini bukan hanya tentang pergantian kepemimpinan, tetapi juga tentang arah masa depan organisasi terbesar di Indonesia itu. (Rahman)

Komentar