Peringati Harlah ke-92, GP Ansor Gelar Gowes Lintas Sejarah Bangkalan–Jombang

Iklan Semua Halaman

Post ADS 1

Header Menu

Peringati Harlah ke-92, GP Ansor Gelar Gowes Lintas Sejarah Bangkalan–Jombang

Rabu, 29 April 2026
Foto: istimewa


JURNALREPORTASE.COM, SURABAYA - Rute panjang dari Madura menuju Jombang berubah menjadi panggung kebangkitan energi anak muda ketika ribuan peserta mengayuh sepeda dalam rangka Hari Lahir ke-92 Gerakan Pemuda Ansor, Minggu (26/4/2026). Sejak pagi, denyut semangat sudah terasa dari titik awal di Bangkalan, mengalir bersama roda-roda sepeda yang bergerak menembus batas wilayah, menyatukan beragam latar belakang dalam satu tujuan, yaitu merawat ingatan sejarah dan meneguhkan komitmen kebangsaan.


Perjalanan sejauh sekitar 123 kilometer itu bukan sekadar lintasan fisik, melainkan perjalanan simbolik yang menghubungkan generasi masa kini dengan jejak ulama pendiri Nahdlatul Ulama. Di sepanjang jalan, peserta tak hanya berolahraga, tetapi juga menghidupkan kembali narasi perjuangan yang selama ini menjadi fondasi berdirinya tradisi keislaman Nusantara.


Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor, Addin Jauharudin, menyebut kegiatan ini sebagai upaya merawat memori kolektif yang sarat nilai spiritual dan keteladanan.


“Kita ingin mengenang perjalanan yang tidak mudah, penuh tawadu seperti yang dilakukan oleh Kiai As’ad, yang membawa isyarah pendirian NU dari Mbah Kholil Bangkalan kepada Mbah Hasyim Asy’ari,” ujar Addin dalam keterangan persnya, Selasa (28/4/2026).


Ia menilai, pesan dari perjalanan sejarah tersebut tetap relevan bagi generasi muda hari ini. Keteladanan, menurutnya, tidak mengenal batas usia.


“Mungkin kala itu, Kiai As’ad masih seumuran kita anak muda. Dan inilah nilai penting, bahwa dengan keyakinan dan ketakdziman, kita bisa mencapai mimpi-mimpi besar dan berperan bagi negeri,” tambahnya.


Atmosfer kebersamaan semakin terasa ketika rombongan melintasi berbagai daerah. Setiap titik perhentian menjadi ruang interaksi sosial yang hangat, mempertemukan peserta dengan masyarakat lokal. Produk-produk UMKM, kuliner khas daerah, hingga sambutan warga menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan panjang tersebut.


Di sisi lain, kegiatan ini juga menghadirkan wajah toleransi yang nyata. Keterlibatan organisasi lintas iman memperkaya makna kebersamaan, bahkan sejumlah tempat ibadah lintas agama turut membuka ruang sebagai titik istirahat. Hal ini mempertegas bahwa semangat persaudaraan dapat tumbuh kuat di atas keberagaman.


Addin menegaskan, GP Ansor ingin menjadikan setiap kegiatan sebagai ruang temu ide dan energi kreatif generasi muda.


“Dengan menjadikan setiap kegiatan sebagai hub anak muda, kami meyakini energi generasi muda yang disatukan akan memberikan dampak besar bagi Indonesia,” tegasnya.


Perjalanan ini diawali dengan ziarah ke makam Syaikhona Kholil Bangkalan dan silaturahmi dengan dzurriyahnya, sebelum akhirnya ditutup di Jombang dengan ziarah ke makam Pahlawan Nasional KH Abdul Wahab Hasbullah. Dua titik tersebut menjadi penanda penting yang mengikat perjalanan dalam satu garis sejarah panjang ulama Nusantara.


Di momentum Harlah ini pula, Addin mengajak seluruh kader Ansor untuk terus menjaga koneksi spiritual dengan para ulama dan pesantren.


“Dalam momentum Harlah ini, mari lakukan ziarah serentak kepada para penyebar Islam di daerah masing-masing, muassis NU setempat, makam kesultanan, serta bersilaturahmi dengan para kiai dan pimpinan pondok pesantren,” pungkasnya.


Kegiatan ini menunjukkan bahwa di tengah perubahan zaman, generasi muda tetap memiliki ruang untuk tumbuh tanpa kehilangan akar. Melalui pendekatan kreatif seperti gowes lintas sejarah, GP Ansor menghadirkan cara baru merawat tradisi—menggabungkan gerak fisik, refleksi spiritual, dan solidaritas sosial dalam satu denyut yang sama. (Red)