Di Tengah Polemik Dugaan Fitnah, Gus Lilur Tantang 4 Tokoh NU Ngaji Kitab

Iklan Semua Halaman

Post ADS 1

Header Menu

Di Tengah Polemik Dugaan Fitnah, Gus Lilur Tantang 4 Tokoh NU Ngaji Kitab

Rabu, 26 Agustus 2026

 

HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy (Gus Lilur).
foto: Had


JURNALREPORTASE.COM, SURABAYA — Jelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, tensi polemik di kalangan Nahdliyin kembali meningkat. Kali ini, sorotan mengarah kepada HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur yang melontarkan tantangan terbuka kepada empat tokoh NU.


Tantangan tersebut muncul setelah Gus Lilur diadukan ke Bareskrim Mabes Polri oleh Forum Advokasi Rekonsiliasi Untuk Keadilan (FARUK) terkait dugaan penghinaan dan fitnah terhadap KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. Aduan itu berkaitan dengan pernyataan Gus Lilur dalam sebuah podcast yang kemudian beredar luas di media sosial.


Alih-alih meredam pernyataannya, Gus Lilur justru merespons polemik tersebut dengan tantangan yang ia sebut sebagai upaya pembuktian. Ia mengaitkan persoalan hukum yang dihadapinya dengan tudingan bahwa dirinya telah memfitnah Gus Kikin karena menyebut tokoh tersebut tidak bisa mengaji.


“Berhubung saya dipidana karena dituduh memfitnah Gus Kikin gak bisa ngaji, tentu saya harus membuktikan bahwa Gus Kikin gak bisa ngaji,” tulis Gus Lilur dalam pernyataan bertajuk “Tantangan Terbuka”, Rabu (26/8/2026).


Tantangan itu kemudian diperluas. Tidak hanya Gus Kikin, Gus Lilur menyebut tiga nama lain yang menurutnya harus mengikuti tantangan tersebut, yakni Rais Aam PBNU Miftahul Akhyar, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, serta Nusron Wahid.


Gus Lilur menginginkan pembuktian dilakukan di arena Muktamar NU. Dengan nada menantang, ia mengajak keempat tokoh tersebut untuk “ngarang kitab” di lokasi pelaksanaan Muktamar.


“Dalam rangka pembuktian hukum bahwa Gus Kikin gak bisa ngaji, dengan segala hormat dan kerendahan hati, saya tantang ngarang kitab di arena Muktamar NU 4 orang berikut,” ujarnya.


Pernyataan tersebut menjadi menarik karena dilontarkan hanya beberapa hari menjelang Muktamar NU ke-35 yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Forum tertinggi NU itu sendiri tengah menjadi perhatian luas karena menjadi momentum penentuan arah kepemimpinan organisasi untuk periode mendatang.


Bahkan, tantangan Gus Lilur tidak berhenti pada uji kemampuan mengaji. Ia juga memberikan konsekuensi yang cukup ekstrem apabila keempat tokoh tersebut dianggap tidak mampu memenuhi tantangan yang diajukannya.


“Kalau ternyata keempatnya gak bisa ngaji, saya minta mereka mondok di Pesantren Tambak Beras lokasi Muktamar sampai bisa ngaji,” tulisnya.


Polemik ini menambah panjang daftar perdebatan yang muncul menjelang Muktamar. Nama Gus Kikin sendiri tengah menjadi salah satu perhatian dalam dinamika kepemimpinan NU. Ia sebelumnya menyatakan kesiapan menjalankan amanah apabila mendapatkan mandat dalam Muktamar, sementara sejumlah gagasan mengenai penguatan peran Syuriyah dan pengembalian NU kepada nilai-nilai para muassis juga menjadi bagian dari wacana yang berkembang.


Di sisi lain, pihak yang mengadukan Gus Lilur ke Bareskrim menilai persoalan tersebut perlu disikapi melalui mekanisme hukum. FARUK menyebut langkah itu bukan dimaksudkan untuk membungkam kritik, melainkan meminta agar pernyataan mengenai ulama disampaikan secara bertanggung jawab.


Ketua FARUK M. Chalid juga membuka ruang tabayun, klarifikasi, dan penyelesaian secara baik. Namun, apabila unsur pidana ditemukan, pihaknya menyerahkan proses tersebut kepada aparat penegak hukum.


Kini, pernyataan Gus Lilur menghadirkan babak baru. Jika sebelumnya polemik berpusat pada dugaan penghinaan dan fitnah, kini perdebatan bergeser ke sebuah tantangan terbuka yang ingin membawa kemampuan mengaji ke ruang publik.


Apakah tantangan tersebut benar-benar akan diuji di arena Muktamar atau hanya menjadi pernyataan yang beredar di tengah panasnya dinamika menjelang forum tertinggi NU, publik masih menunggu jawabannya.


Yang pasti, menjelang Muktamar NU ke-35, satu pernyataan Gus Lilur kembali membuat perhatian warga Nahdliyin tertuju pada Jombang. (Rahman)