![]() |
| foto: istimewa |
JURNALREPORTASE.COM, SURABAYA — Istilah “Ber-NU tanpa ber-PBNU” kembali dilontarkan HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy, atau yang akrab disapa Gus Lilur, setelah pelaksanaan Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Bagi Gus Lilur, slogan tersebut bukan gagasan yang baru muncul. Ia mengaku pertama kali menggunakan istilah “Ber-NU tanpa ber-PBNU” pada Januari 2022. Kala itu, pernyataannya sempat menuai kritik dan sindiran dari sejumlah kalangan.
“Saya tertawain mereka sambil bergumam: kalian belum tahu,” ujar Gus Lilur dalam keterangannya, Minggu (13/9/2026).
Menurut dia, dinamika yang terjadi di tubuh kepengurusan PBNU setelah Muktamar ke-34 di Lampung justru membuat istilah tersebut kembali mendapat perhatian. Ia menyoroti konflik internal, saling membuka persoalan, hingga pergantian atau pemecatan di antara pengurus.
“Mandataris Muktamar ke-34 Lampung berantem, saling buka borok sendiri, saling pecat. Semua warga NU malu pada kelakuan mereka yang di PBNU,” katanya.
Dari situ, Gus Lilur menilai identitas ke-NU-an tidak semestinya hanya dilekatkan pada struktur organisasi PBNU. Ia kemudian kembali membawa slogan serupa setelah Muktamar NU ke-35 di Tambakberas.
Kali ini, slogan “Ber-NU tanpa ber-PBNU” bahkan disebutnya mendapat respons dengan munculnya sejumlah ungkapan lain di kalangan warga NU, seperti “Ber-NU selamanya, ber-PBNU sekedarnya” hingga “Ber-NU saklawase, ber-PBNU sak cukupè”.
Lantas, apa yang dimaksud Gus Lilur dengan “Ber-NU” tanpa harus “ber-PBNU”?
Ia menjelaskan, bagi dirinya, ber-NU pada dasarnya merupakan cara menjalankan ajaran Islam sesuai tradisi keilmuan yang selama ini menjadi ciri khas Nahdlatul Ulama. Ia menyebut tiga hal utama, yakni bermadzhab Syafi’i, berakidah Asy’ari, serta bertasawuf dengan mengikuti jalan yang diajarkan Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam al-Ghazali.
“Ber-NU bagi saya adalah beragama Islam dengan cara NU. Bermadzhab Syafi’i, berakidah Asy’ari, dan bertasawuf ala Imam Junaid al-Baghdadi dan atau Imam al-Ghazali,” ujarnya.
Menurut Gus Lilur, tiga prinsip tersebut dapat diamalkan tanpa seseorang harus berada atau terikat dengan struktur PBNU. Ia menyebut ajaran tersebut telah lama diwariskan oleh para kiai NU kepada masyarakat.
“Mengamalkan tiga cara beragama sesuai ajaran NU di atas tidak perlu ber-PBNU. Para kiai alim NU sudah mengajarkan kami hal tersebut,” katanya.
Pernyataan Gus Lilur kemudian berlanjut pada kritiknya terhadap kepemimpinan di lingkungan PBNU, khususnya terhadap Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar. Ia secara terbuka mempertanyakan kapasitas keilmuan Rais Aam dan menjadikan sejumlah pidato sebagai bagian dari argumentasinya.
Gus Lilur menyebut dua video yang dibuat oleh timnya, menampilkan seorang anak usia sekolah dasar yang memberikan komentar terhadap dua pidato KH Miftahul Akhyar. Masing-masing adalah pidato penutupan Munas dan Konbes NU di Bangkalan serta pidato pembukaan Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Jombang.
“Dua video Siti tersebut saya yang bikin. Saya minta tim saya untuk membuat video tersebut,” ujarnya.
Ia menilai video tersebut menjadi bukti atas kritik yang selama ini disampaikannya terhadap kapasitas Rais Aam PBNU. Bahkan, Gus Lilur mengaku pernah mempublikasikan kritik terhadap pidato penutupan Munas-Konbes NU di Bangkalan melalui puluhan media.
“Rais Aam awam, plagiat, salah pasang harkat,” kata Gus Lilur, merujuk pada kritik yang pernah ia publikasikan.
Atas pandangan tersebut, Gus Lilur menegaskan dirinya memilih mengambil jarak dari struktur PBNU, namun tidak merasa meninggalkan nilai-nilai ke-NU-an yang diyakininya.
“Karena Rais Aam awam, saya yang berguru pada banyak kiai alim di NU menolak dipimpin kiai awam: ber-NU tanpa ber-PBNU,” tegasnya.
Bagi Gus Lilur, menjadi bagian dari NU tidak semata-mata soal posisi dalam struktur organisasi. Baginya, tradisi keilmuan, akidah, fikih, tasawuf, serta ajaran para kiai merupakan fondasi utama dalam menjalankan ke-NU-an.
Gus Lilur juga mempersilah untuk menonton videonya jika ingin pembahasan yang lebih lengkap.
"Silahkan tonton Video berikut:
https://youtu.be/K1obU68JBQw?si=x1j5Pyz_VvlTfaEh ," Kata Gus Lilur.
Ia menutup pernyataannya dengan seruan yang menjadi prinsip yang ingin ia tegaskan dalam kritiknya tersebut.
“Salam Amar Makruf Nahiy Mungkar,” ujarnya. (Rahman)

Komentar