![]() |
| Siti Rahmawati saat merangkai buket yang dibuat untuk memenuhi pesanan pelanggan. Foto: Siti Rahmawati |
JURNALREPORTASE.COM, BANGKALAN — Berawal dari kegiatan iseng untuk mengisi waktu luang, Siti Rahmawati justru menemukan peluang usaha yang terus ia tekuni hingga kini. Perempuan 21 tahun itu mulai membuat dan menjual buket sejak 2020 dari rumahnya di Dusun Jaddih Timur 1, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan.
Tangannya yang terampil merangkai bunga, uang, makanan, hingga berbagai kebutuhan seserahan perlahan membawa usaha tersebut berkembang. Pesanan datang tidak hanya dari lingkungan sekitar, tetapi juga dari pelanggan yang membutuhkan buket untuk berbagai keperluan dan momentum.
“Awalnya cuma iseng aja dan ingin mengembangkan kreativitas,” ujar Siti, Minggu (23/8/2026).
Di luar kesibukannya sebagai pengajar RA/TK, Siti tetap menyempatkan diri mengerjakan pesanan. Usaha tersebut ia jalankan secara fleksibel dari rumah, menyesuaikan waktu dengan aktivitas mengajarnya.
Pelanggan dapat memesan secara daring maupun datang langsung ke rumah. Untuk pesanan yang membutuhkan pengiriman, Siti juga menyediakan layanan antar menggunakan sepeda motor maupun mobil, tergantung jumlah dan kebutuhan pesanan.
Momen tertentu turut membawa berkah bagi usahanya. Salah satunya musim wisuda yang biasanya membuat permintaan buket meningkat. Tak hanya pesanan perorangan, Siti juga pernah mendapatkan pesanan dalam jumlah besar dari sebuah pondok hingga lebih dari 100 buket.
“Alhamdulillah ada saja sehari-harinya dan pesanan meningkat ketika musim wisuda. Kalau orderan pondok bisa 100 lebih buket,” ungkapnya.
Pesanan dalam jumlah besar tentu bukan tanpa tantangan. Ketika pekerjaan menumpuk, Siti biasanya meminta bantuan teman untuk membantu proses pengerjaan. Cara itu dilakukan agar seluruh pesanan bisa selesai tepat waktu dan tetap memenuhi keinginan pelanggan.
Bagi Siti, kesibukan tersebut justru menjadi bagian menyenangkan dari perjalanan usahanya. Ia bisa tetap berkarya tanpa harus meninggalkan aktivitas utamanya sebagai pengajar. Membuat buket juga memberinya ruang untuk terus mengeksplorasi ide dan kreativitas.
“Karena kerjanya santai dan saya sangat senang,” ujarnya.
Enam tahun berjalan, Siti belum ingin berhenti di tahap usaha rumahan. Ia berharap bisnis buket yang dirintis dari kegiatan iseng itu bisa tumbuh lebih besar dan memiliki tempat usaha sendiri. Baginya, memiliki toko akan menjadi langkah penting agar produknya semakin dikenal dan jangkauan pelanggannya semakin luas.
“Harapan saya semoga segera punya tempat atau toko buket,” harapnya.
Dari ruang sederhana di rumah, Siti kini membangun usahanya sedikit demi sedikit. Buket yang semula hanya menjadi wadah menyalurkan kreativitas berubah menjadi sumber penghasilan sekaligus jalan untuk mengembangkan keterampilannya. Ia pun memilih terus berjalan, satu pesanan demi satu pesanan, sambil menyimpan harapan suatu hari nanti memiliki toko buket yang benar-benar ia bangun sendiri.

Komentar