![]() |
| foto: Rif |
JURNALREPORTASE.COM, BANGKALAN — Tak perlu menyeberang jauh untuk mencari suasana pantai. Dari kawasan Bangkalan, Jawa Timur, Pantai Goa Petapa menawarkan pemandangan pesisir yang cukup dekat dijangkau dari Surabaya.
Pantai yang berada di Kampung Kejawan, Desa Sukolilo Timur, Kecamatan Labang, Bangkalan, itu dikelola secara mandiri oleh sebuah keluarga sejak 2020. Bermula dari melihat potensi alam di sekitar rumah, kawasan tersebut perlahan dikembangkan menjadi tempat wisata yang bisa dinikmati masyarakat.
Pengelola Pantai Goa Petapa, Faiz, 26, mengatakan ide tersebut muncul karena rumah keluarganya memang berada di tepi pantai. Dengan memanfaatkan potensi yang ada, keluarga kemudian membuka kawasan tersebut sebagai destinasi wisata.
“Memang keluarga kita menemukan potensi di sini untuk dijadikan wisata pantai. Karena rumahnya juga ada di pinggir pantai, jadi kami membuka tempat wisata ini,” kata Faiz, Minggu (30/08/2026).
![]() |
| foto: Rif |
Salah satu pemandangan yang menjadi daya tarik adalah bentang laut dengan latar Jembatan Suramadu. Pengunjung bisa menikmati suasana pantai, hamparan pasir, hingga kawasan karang yang berada di sekitar lokasi.
Fasilitas yang tersedia juga cukup sederhana namun bisa menunjang aktivitas pengunjung. Ada gazebo, tempat duduk untuk bersantai, area bermain anak, hingga ayunan. Bagi pengunjung yang ingin bermalam, tersedia pula kesempatan untuk berkemah tanpa dikenai tiket tambahan. Pengunjung cukup membayar biaya parkir.
Tarif masuknya pun relatif terjangkau. Pejalan kaki hanya dikenai Rp1.000. Sementara pengunjung yang membawa sepeda motor membayar Rp5.000 dan mobil Rp10.000, ditambah Rp1.000 untuk setiap orang.
Ramainya pengunjung belum selalu stabil. Pada hari biasa, pengelola rata-rata menerima sekitar 10 sepeda motor. Jumlah tersebut biasanya meningkat ketika akhir pekan maupun hari raya. Tak hanya warga Bangkalan, wisatawan dari Surabaya dan Sidoarjo juga mulai berdatangan.
Promosi dari media sosial ikut membantu memperkenalkan Pantai Goa Petapa. Salah satunya dirasakan Asroful Anam, 23, warga Blega, yang mengetahui lokasi tersebut melalui TikTok.
![]() |
| foto: Rif |
Setelah datang langsung, Asroful menilai panorama pantai menjadi salah satu alasan kawasan itu menarik untuk dikunjungi. Ia juga melihat kondisi pantai cukup bersih dengan harga tiket yang menurutnya sebanding dengan fasilitas yang tersedia.
“Tempat wisatanya bagus, pemandangannya juga bagus. Dari sini kita bisa melihat Suramadu,” ujar Asroful.
Aktivitas wisatawan yang meningkat juga membawa manfaat bagi warga sekitar. Salah satunya Aisyah, 50, warga Kampung Kejawan, yang memanfaatkan keramaian pengunjung untuk berjualan berbagai makanan seperti sosis, martabak, dan gorengan. Ia biasanya berjualan ketika ada kegiatan atau saat pengunjung ramai, terutama pada Minggu.
“Ya menambah, alhamdulillah,” kata Aisyah.
Faiz mengatakan keberadaan wisata tersebut memang memberikan ruang bagi warga untuk ikut mendapatkan manfaat ekonomi. Selain aktivitas perdagangan, masyarakat sekitar juga turut dilibatkan ketika kawasan Pantai Goa Petapa digunakan untuk kegiatan latihan atlet PODSI.
Namun, perjalanan mengembangkan wisata secara mandiri bukan tanpa kendala. Keterbatasan modal membuat penambahan fasilitas harus dilakukan secara bertahap. Pengelola juga menghadapi persoalan sampah bawaan laut yang pada musim tertentu meningkat cukup signifikan.
Membersihkan sampah tersebut tidak selalu bisa selesai dalam sehari. Pengelola bahkan membutuhkan waktu beberapa hari dan pengerjaannya dilakukan secara mandiri.
Meski begitu, kondisi tersebut tidak membuat pengelola berhenti berbenah. Ke depan, sejumlah fasilitas akan ditambah secara bertahap agar pengunjung semakin nyaman. Salah satu potensi yang ingin dikembangkan adalah panorama malam, khususnya pemandangan lampu-lampu Kota Surabaya yang terlihat dari kawasan pantai.
Faiz berharap Pantai Goa Petapa tidak hanya menjadi tempat rekreasi bagi masyarakat, tetapi juga terus tumbuh sebagai ruang yang memberikan manfaat ekonomi bagi warga Kampung Kejawan dan lingkungan sekitarnya.
Harapan itu menjadi bagian dari perjalanan wisata yang sejak awal dibangun dengan kekuatan keluarga, memanfaatkan potensi pantai yang sebelumnya berada di sekitar rumah dan kini mulai dikenal lebih luas oleh wisatawan dari berbagai daerah. (Rif/Red)

Komentar

