![]() |
| foto: Gus Lilur |
JURNALREPORTASE.COM, SURABAYA – Polemik terkait Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) kembali memanas. Setelah menerbitkan tulisan berjudul “NU, Gus Dur dan Bromocorah Politik”, Haji Raden Mas Khalilur Rahman Abdullah Sahlawiy Al-Alawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur menyatakan dirinya telah menyampaikan seluruh hal yang menurutnya perlu disampaikan kepada publik.
Dalam pernyataan terbarunya, Gus Lilur menegaskan bahwa apa yang ingin disampaikan, dijelaskan, dan disuarakan olehnya telah selesai. Ia bahkan menggunakan tiga kata untuk menggambarkan sikapnya saat ini: “Selesai, tunai, tuntas.”
“Apa yang harus disampaikan sudah Saya sampaikan. Apa yang harus dijelaskan sudah Saya jelaskan. Apa yg hrs disuarakan sdh Saya suarakan. SELESAI,” tulis Gus Lilur dalam pernyataannya, Selasa (29/9/2026).
Namun, Gus Lilur mengatakan masih ada satu hal yang belum dilakukannya, yakni membawa persoalan tersebut ke jalur pidana. Ia menyebut ada alasan khusus mengapa langkah tersebut belum ditempuh.
Menurut dia, pihak yang menjadi lawannya merupakan sosok yang memiliki hubungan darah dengan guru yang sangat dihormatinya, KH. Bisri Syansuri, salah satu pendiri Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif Denanyar, Jombang.
Gus Lilur kemudian menceritakan nasihat ayahnya yang disebutnya sebagai seorang petani dusun sekaligus Rois Syuriah MWC NU yang setiap minggu mengajar kitab Ihya Ulumudin. Menurutnya, sang ayah selalu mengajarkan pentingnya menghormati guru, termasuk menghormati keluarga dan keturunannya.
“Cung, menghormati Guru itu kayak baca sholawat pada Rasulullah: Wa 'ala alihi,” tulis Gus Lilur, mengutip pesan ayahnya.
Ia mengatakan prinsip tersebut menjadi salah satu pertimbangannya untuk tidak langsung membawa persoalan ke ranah hukum pidana. Menurut Gus Lilur, ia masih menghormati hubungan kekeluargaan dengan sosok yang disebutnya memiliki darah keturunan KH. Bisri Syansuri.
Sikap itu, kata dia, dapat berubah apabila dirinya lebih dahulu dilaporkan secara pidana. Gus Lilur bahkan menyatakan siap menghadapi proses hukum dan membawa berbagai persoalan yang menurutnya berkaitan dengan pihak yang ia sebut dalam pernyataannya.
“Beda kalau Ipul Kumis Beracun memidanakan Saya duluan, Saya akan bersimpuh di Pusara Kyai Bisri Syansuri sebelum Saya memidanakan Ipul dengan banyak Kasus Tipikor secara bergantian sampai Ipul membusuk di Penjara,” tulisnya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah polemik mengenai dugaan aliran uang dalam pelaksanaan Muktamar ke-35 NU. Sebelumnya, Gus Lilur telah menyampaikan tudingan mengenai dugaan aliran uang Rp480 miliar ke Muktamar ke-35 NU. Pernyataan itu telah dibantah oleh Saifullah Yusuf atau Gus Ipul yang menyebut pernyataan tersebut sebagai fitnah dan menyesatkan. Gus Ipul juga menyatakan rencana menempuh langkah hukum terhadap pihak-pihak yang dinilai menyebarkan informasi tersebut.
Gus Lilur menyebut dalam beberapa hari terakhir ada empat orang yang secara intens berkomunikasi dengannya. Menurut dia, keempat orang tersebut memiliki agenda yang sama, yakni menjaga NU agar tidak semakin terbelah akibat polemik yang berkembang.
“Beliau berempat meminta Saya untuk menjaga sikap jangan sampai kebenaran yang Saya sampaikan malah meremukkan NU,” ujarnya.
Ia mengklaim keempat orang tersebut juga memiliki pandangan bahwa dugaan suap dan jual beli suara dalam Muktamar ke-35 NU perlu diungkap. Namun, setelah persoalan tersebut dibuka, Gus Lilur mengaku diminta untuk menepi agar polemik tidak semakin melebar.
Permintaan itu, menurut Gus Lilur, tidak langsung ia terima. Ia menyebut ada tiga syarat yang diajukan sebelum dirinya memilih mundur dari polemik tersebut.
Pertama, ia meminta Rais Aam PBNU mengundurkan diri. Kedua, ia meminta pihak-pihak yang menurutnya menerima suap mengembalikan uang tersebut kepada KPK. Ketiga, ia meminta agar tidak ada pihak yang mengajaknya berperang melalui jalur pidana.
Jika syarat terakhir itu tidak terpenuhi, Gus Lilur menyatakan dirinya siap menempuh jalur hukum.
“Kalau Ipul Kumis Beracun munafik itu ngajak Saya perang pidana, sekalipun Saya dibenci oleh seluruh Kyai NU, Saya akan memilih berperang dan memidanakan Ipul, Juri, Nusron, Miftahul Akhyar dan seluruh antek-anteknya,” tulisnya.
Sebelumnya, polemik antara Gus Lilur dan Gus Ipul telah mencuat ke ruang publik setelah muncul tudingan mengenai dugaan aliran uang dalam Muktamar ke-35 NU. Gus Ipul kemudian menyatakan akan melayangkan somasi kepada sejumlah pihak yang dianggap menyebarkan narasi tersebut. Gus Lilur mengaku tidak gentar menghadapi rencana somasi tersebut.
Di bagian akhir pernyataannya, Gus Lilur kembali menegaskan identitas perjuangan yang ia gunakan, yakni “PAMANGKAR” atau Pejuang Amar Makruf Nahi Mungkar.
Menurutnya, sikap tersebut merupakan bagian dari upaya menjalankan ajaran agama dan menjaga apa yang diyakininya sebagai kebenaran.
“Saya lebih memilih dicintai Allah dan Rasulullah dari pada dipuji Para Kyai Munafik penerima suap muktamar dari Ipul, Nusron dan Juri Ardiantoro,” tulisnya.
Ia pun menutup pernyataannya dengan kalimat yang menegaskan bahwa dirinya tidak merasa mudah ditekan oleh intimidasi.
“Tidak semua Santri NU bisa diintimidasi. Tidak semua Kyai NU bisa ditakut-takuti,” tegas Gus Lilur. (Rahman)

Komentar