Ning Lia Apresiasi Pelestarian Sejarah Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis

Iklan Semua Halaman

Post ADS 1

Header Menu

Ning Lia Apresiasi Pelestarian Sejarah Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis

Selasa, 27 Oktober 2026

 

dok: istimewa


NGANJUK, JURNALREPORTASE.COM – Upaya menjaga warisan leluhur tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Merawat catatan sejarah, mempertahankan tradisi, dan mengenalkan kembali nilai-nilai budaya kepada generasi muda menjadi bagian penting agar peninggalan masa lalu tetap memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat modern.


Semangat tersebut terasa dalam peresmian Purana Tembaga di Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis, Dusun Curik, Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Senin (26/10/2026) malam. Kegiatan yang digelar bersamaan dengan upacara Njejer Piodalan dan Pasupati Purana itu menjadi momentum untuk meneguhkan kembali pentingnya menjaga sejarah dan kebudayaan lokal.


Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Hj. Lia Istifhama, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadiran senator yang akrab disapa Ning Lia itu menjadi bentuk perhatian terhadap pelestarian budaya, terutama kekayaan tradisi daerah yang belum banyak dikenal masyarakat luas.


Di tengah rangkaian acara, Ning Lia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan adat dan kebudayaan yang menjadi pembeda sekaligus kekuatan bangsa. Warisan tersebut tidak semestinya berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi harus tetap dijaga agar nilai-nilainya dapat dipahami dan diteruskan kepada generasi berikutnya.


"Keanekaragaman kebudayaan dan adat istiadat asli Nusantara harus kita jaga karena merupakan fondasi atau jati diri bangsa. Warisan ini harus tetap terpelihara agar tidak hilang tergerus zaman," tegas senator cantik ini.


Menurutnya, menjaga kebudayaan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Keluarga, masyarakat, tokoh adat, pemerintah, hingga generasi muda memiliki peran dalam mempertahankan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Dengan begitu, perubahan zaman tidak membuat masyarakat kehilangan hubungan dengan akar sejarahnya.


Suasana peresmian berlangsung meriah dengan penampilan Tari Gambyong, Tari Rejang Dewa, dan kesenian Reog. Kehadiran beragam pertunjukan tersebut memberikan warna tersendiri, mempertemukan unsur budaya Jawa dan Bali dalam satu rangkaian kegiatan yang sarat makna.


Puncak acara ditandai dengan pembacaan naskah Purana Tembaga Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis oleh Guru Mangku Nyoman Cakra dari Gianyar, Bali. Naskah tersebut memuat sejarah dan asal-usul pura, sehingga keberadaannya memiliki arti penting bagi masyarakat yang ingin menjaga kesinambungan cerita tentang tempat suci tersebut.


Ketua Umum Solidaritas Kawasan Industri Nganjuk (KING), Raden Aji S. Hartawan, menjelaskan bahwa Purana Tembaga merupakan dokumen sejarah yang berkaitan dengan asal-usul sebuah pura. Keberadaan dokumen itu menjadi salah satu cara untuk mempertahankan catatan sejarah agar tetap dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.


"Purana Tembaga adalah dokumen sejarah, prasasti, atau kitab suci kuno tentang asal-usul suatu tempat pura yang ditulis di atas lempengan tembaga," ujarnya.


Raden Aji juga menyoroti potensi kebudayaan di Nganjuk yang menurutnya masih perlu diperkenalkan lebih luas. Ia menilai, perhatian terhadap kekayaan lokal dapat membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menunjukkan identitas daerahnya, sekaligus menjaga tradisi yang selama ini tumbuh di lingkungan mereka.


Kehadiran Ning Lia dalam kegiatan tersebut pun mendapat apresiasi. Menurut Raden Aji, keterlibatan tokoh publik yang datang langsung ke tengah masyarakat dapat memberikan dorongan bagi daerah untuk lebih percaya diri mengangkat potensi yang dimiliki.


"Sosok figur, tokoh, dan politisi pro rakyat seperti Ning Lia sangat dibutuhkan masyarakat saat ini, khususnya di daerah yang potensi wilayahnya belum terekspos," ungkapnya.


Ia berharap, kekayaan budaya dan kearifan lokal di Nganjuk tidak hanya mendapat perhatian ketika berlangsung acara tertentu. Upaya mengenalkan potensi daerah, kata dia, perlu dilakukan secara berkelanjutan agar sejarah dan tradisi setempat semakin dikenal masyarakat luas.


"Potensi yang belum pernah diekspos ini memiliki peluang besar, baik berupa kebudayaan, adat, maupun kearifan lokal setempat. Dengan kehadiran Ning Lia yang turun langsung ke lapangan, diharapkan bisa memberikan motivasi dan solusi bagi daerah yang kurang terekspos," tambahnya.


Sejumlah tokoh turut menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya Pinandita Damri dari Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis, Kepala Desa Bajulan, Camat Loceret, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Nganjuk, jajaran pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta tokoh agama dari Gianyar, Bali.


Peresmian Purana Tembaga menjadi salah satu upaya menjaga hubungan masyarakat dengan sejarah yang membentuk kehidupan mereka. Di balik ritual dan pertunjukan seni yang berlangsung malam itu, terdapat pesan sederhana: warisan leluhur akan tetap hidup apabila dirawat dan dikenalkan kepada generasi penerus.


Bagi Ning Lia, keberagaman budaya merupakan bagian dari jati diri bangsa yang tidak boleh diabaikan. Menjaga tradisi berarti turut menjaga identitas Indonesia, sekaligus memastikan kekayaan sejarah dan kearifan lokal tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di tengah perubahan zaman. (Rahman)