![]() |
| Delegasi Ansor Jatim menikmati panorama Kota Shenzhen dari wahana Bao’an Ferris Wheel. (Dok: istimewa). |
SHENZHEN, JURNALREPORTASE.COM – Ada dua hal yang menarik perhatian delegasi Pimpinan Wilayah (PW) GP Ansor Jawa Timur selama berada di Shenzhen, Tiongkok. Di satu sisi, mereka menyaksikan bagaimana teknologi menjadi bagian penting dalam wajah kota modern. Di sisi lain, mereka melihat bagaimana tradisi dan kebudayaan tetap mendapat tempat di tengah pesatnya pembangunan.
Pengalaman itu dirasakan saat delegasi mengunjungi Bao’an Ferris Wheel, Jumat (29/10/2026). Dari dalam gondola raksasa tersebut, rombongan menikmati panorama Kota Shenzhen dari ketinggian. Perlahan kapsul bergerak menuju puncak, menyuguhkan pemandangan kota dari berbagai arah.
Dari atas bianglala, Shenzhen terlihat begitu tertata. Gedung-gedung tinggi berdiri berdampingan dengan kawasan permukiman, ruang publik, pusat perkantoran, serta fasilitas transportasi massal. Semuanya membentuk lanskap perkotaan yang memperlihatkan pesatnya perkembangan kota tersebut.
Namun, perjalanan delegasi Ansor Jatim tidak berhenti pada pengalaman melihat kecanggihan teknologi. Setelah menikmati panorama kota, rombongan melanjutkan perjalanan menggunakan bus menuju Splendid China Folk Village and Cultural Show.
![]() |
| dok: istimewa |
Di tempat ini, suasana kunjungan terasa berbeda. Selama kurang lebih empat jam, delegasi diajak mengenal sejarah dan keragaman budaya Tiongkok melalui berbagai replika bangunan bersejarah, pertunjukan seni, serta gambaran kehidupan masyarakat dari beragam kelompok etnis.
Splendid China Folk Village menyajikan miniatur sejumlah bangunan ikonik yang menjadi bagian dari sejarah peradaban Tiongkok. Replika Tembok Besar China dan kompleks Tentara Terakota menjadi beberapa daya tarik yang dapat disaksikan pengunjung. Kawasan tersebut juga menghadirkan desa-desa etnis minoritas lengkap dengan gambaran adat istiadat dan tradisi yang masih melekat dalam kehidupan masyarakatnya.
Hal yang paling menyita perhatian adalah pertunjukan budaya di panggung utama. Ratusan penari profesional tampil dengan koreografi yang tertata, mengenakan busana khas Tiongkok. Permainan lampu, atraksi akrobatik, hingga parade budaya membuat pertunjukan berlangsung semarak.
Di balik kemegahan panggung itu, ada pesan yang bisa ditangkap. Tiongkok tidak hanya memperkenalkan kemajuan melalui gedung-gedung modern dan teknologi, tetapi juga memberi ruang bagi sejarah serta kebudayaan untuk terus dikenal. Tradisi tidak dibiarkan menjadi cerita masa lalu, melainkan dikemas agar tetap dekat dengan masyarakat, termasuk generasi muda.
Bagi Ahmad Burhan, Pengurus PW GP Ansor Jawa Timur, pengalaman tersebut memberikan perspektif tersendiri. Ia melihat ada pelajaran penting dari cara Tiongkok menempatkan teknologi dan kebudayaan secara beriringan.
“Dari teknologi Ferris Wheel di Obay Harbour hingga belajar tentang budaya di Splendid China Follk Village kami menyadari betapa pentingnya sebuah teknologi dengan garis besar tanpa meninggalkan kekayaan tradisi bangsa. Tiongkok mampu mengintegrasikan dua hal itu dengan baik. Hari ini kita belajar” terang Ahmad Burhan, Pengurus PW GP Ansor Jawa Timur.
Ia menilai, perkembangan Tiongkok saat ini menarik untuk dicermati. Modernisasi yang berlangsung tidak serta-merta membuat negara tersebut meninggalkan akar kebudayaannya.
“Kemajuan Tiongkok hari ini menarik, mereka tetap berpijak pada budaya nasionalnya” Pungkasnya.
Dari perjalanan tersebut, delegasi Ansor Jatim mendapatkan gambaran bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak harus dibayar dengan hilangnya identitas. Teknologi dapat terus berkembang, pembangunan bisa semakin modern, tetapi warisan budaya tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat. (Rahman)

Komentar
