Hotel di Madura Tak Cukup Jual Kenyamanan, Akademisi Dorong Penguatan Budaya Lokal

Iklan Semua Halaman

Post ADS 1

Header Menu

Hotel di Madura Tak Cukup Jual Kenyamanan, Akademisi Dorong Penguatan Budaya Lokal

Jumat, 09 Oktober 2026

 

Sucipto, Dosen Pariwisata Universitas Terbuka (UT) Surabaya.
Dok: istimewa


SURABAYA, JURNALREPORTASE.COM – Hotel di Madura tak hanya bisa menjadi tempat menginap bagi wisatawan. Lebih dari itu, sektor perhotelan juga bisa mengambil peran dalam memperkenalkan budaya lokal, salah satunya melalui pakaian yang dikenakan karyawan saat melayani tamu.


Gagasan tersebut disampaikan Sucipto, akademisi asal Kabupaten Sumenep yang juga dosen Pariwisata Universitas Terbuka (UT) Surabaya. Ia mengusulkan agar pengelola hotel mulai memberi ruang bagi pakaian khas Madura dalam aktivitas pelayanan sehari-hari.


Menurut Sucipto, Madura memiliki potensi wisata yang cukup besar. Pantai dan kawasan kepulauan menjadi daya tarik tersendiri, terutama di Kabupaten Sumenep yang memiliki destinasi seperti Pantai 9 dan Gili Labak. Potensi wisata juga tersebar di Bangkalan, Pamekasan, dan Sampang.


Seiring berkembangnya pariwisata, fasilitas penginapan pun semakin beragam. Di Sumenep terdapat MYZE Hotel, sementara Pamekasan memiliki Azana Style Hotel Madura. Di Bangkalan, wisatawan juga bisa menemukan Hotel Rose dan sejumlah hotel lainnya.


Sucipto menilai pertumbuhan tersebut patut disambut positif karena dapat membuka peluang ekonomi bagi daerah. Namun, menurut dia, kemajuan pariwisata sebaiknya tidak hanya berfokus pada pembangunan fasilitas dan pelayanan kepada pengunjung. Budaya setempat juga perlu mendapat perhatian agar tetap menjadi bagian dari identitas Madura.


Salah satu cara yang bisa dilakukan, kata dia, adalah menghadirkan pakaian khas daerah sebagai bagian dari seragam karyawan hotel. Pengelola bisa menentukan hari tertentu untuk mengenakan batik khas Madura, pakaian Sakera-Marlena, atau perpaduan kopiah dan sarung yang lekat dengan kehidupan masyarakat setempat.


“Misalnya dengan cara berpakaiannya. Hari-hari tertentu, karyawan bisa memakai batik khas Madura, atau bisa pakaian Sakera-Marlena, atau juga bisa dengan kopiah dan sarung yang identik dengan ciri masyarakat Madura yang religius,” jelas Sucipto, Kamis (8/10/2026).


Menurutnya, langkah semacam itu tidak harus diterapkan setiap hari. Pengelola hotel bisa menyesuaikannya dengan kebutuhan operasional tanpa mengurangi kualitas pelayanan. Yang terpenting, ada upaya nyata untuk menghadirkan budaya lokal di tengah perkembangan industri pariwisata.


Ia juga menilai masuknya investasi ke Madura semestinya bisa memberi manfaat lebih luas. Pengusaha yang membangun hotel tidak hanya berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memiliki kesempatan untuk ikut menjaga tradisi masyarakat di daerah tempat mereka berusaha.


Dalam hal ini, Sucipto mendorong keterlibatan dinas pariwisata agar gagasan tersebut bisa diterapkan secara lebih terarah. Pemerintah daerah dapat berkoordinasi dengan pengelola hotel untuk menentukan jadwal penggunaan pakaian khas Madura, sekaligus mendorong pelaku usaha agar lebih mengenalkan budaya setempat kepada wisatawan.


“Ya, nanti itu bisa melalui pakaian misalnya, tinggal dijadwal saja. Tentu ini juga perlu kehadiran dinas pariwisata. Jadi diatur itu nanti, hari apa, dari tujuh hari itu misalnya hari apa yang berpakaian adat, jadi adat setempat,” katanya.


Upaya memperkenalkan budaya Madura, lanjutnya, juga bisa dilakukan melalui fasilitas yang sudah tersedia di hotel. Salah satunya televisi di kamar tamu yang dapat dimanfaatkan untuk menampilkan informasi tentang tradisi dan kebudayaan daerah.


Dengan begitu, wisatawan tidak hanya mendapatkan fasilitas menginap, tetapi juga bisa mengenal daerah yang mereka kunjungi. Tayangan singkat mengenai kebudayaan lokal, misalnya, dapat menjadi pintu masuk untuk memahami kehidupan masyarakat Madura.


“Biasanya ketika kita masuk kamar, itu kan begitu nyala ada tayangan di TV. Nah, di situ juga bisa ditampilkan, sehingga itu untuk menjadi informasi bahwa begini lho, budaya tradisi yang ada di Bangkalan,” ujarnya.


Promosi budaya juga bisa diperluas melalui media sosial. Menurut Sucipto, penyebaran informasi saat ini semakin mudah sehingga pengelola hotel dan pemerintah daerah memiliki banyak pilihan untuk memperkenalkan tradisi lokal kepada masyarakat luas.


“Sekarang kan gampang, tinggal memanfaatkan media-media sosial. Itu juga untuk sosialisasi bahwa nilai-nilai budaya yang ada di Bangkalan itu tidak sama dengan persepsi orang yang selama ini dibayangkan,” katanya.


Ia berharap, pengenalan budaya melalui sektor pariwisata dapat membantu masyarakat luar melihat Madura secara lebih utuh. Sebab, selama ini, menurut dia, masih ada persepsi tertentu yang melekat pada Madura dan perlu diimbangi dengan pengenalan terhadap nilai-nilai budaya serta kehidupan masyarakatnya.


“Sehingga begitu orang datang ke Bangkalan, itu kesannya, kenangan yang didapat itu ya memang nilai-nilai sesuai dengan adat istiadat. Bukan justru yang dibayangkan selama ini, misalnya dengan kekerasan dan lain sebagainya,” tutur Sucipto.


Terkait penggunaan pakaian khas daerah di hotel, ia menyadari bahwa desainnya tetap perlu menyesuaikan standar pelayanan. Karena itu, busana tradisional bisa dikembangkan dengan sentuhan modern tanpa menghilangkan ciri khasnya.


Batik dengan motif yang dikenal sebagai identitas Bangkalan dapat menjadi pilihan. Selain itu, pakaian yang terinspirasi dari sosok Sakera juga bisa dihadirkan sebagai alternatif seragam karyawan.


“Bisa dua nanti, pakaian itu, batik satu, artinya batik sesuai dengan motif yang terkenal di Bangkalan. Yang kedua adalah seperti baju Sakera misalnya. Nah, itu bisa ditampilkan atau nanti ada inovasi sendiri,” jelasnya.


Sarung juga bisa menjadi bagian dari pengembangan desain tersebut. Penggunaannya dapat disesuaikan agar tetap praktis dan nyaman untuk menunjang pekerjaan karyawan hotel.


“Untuk saat ini barangkali itu bisa menampilkan yang Sakera. Bisa menggunakan sarung, misalnya sarung,” katanya.


Sucipto mencontohkan, sarung bisa dipadukan dengan celana sehingga unsur tradisional tetap terlihat tanpa harus mengubah keseluruhan pakaian kerja. Menurut dia, penyesuaian semacam itu bisa menjadi jalan tengah antara pelestarian budaya dan kebutuhan standar berpakaian di lingkungan hotel.


“Jadi tetap pakai celana, tapi separuhnya itu ditutup sarung misalnya. Atau juga karena itu nanti, kalau hotel itu langsung dia pakai sarung akan menurun, takut ini nanti kontradiktif dengan standar-standar yang ada di hotel. Hingga nanti modifikasinya saja begitu,” pungkasnya. (Man/Red)