Tembakau Nusantara Menuju Panggung Dunia, Gus Lilur Luncurkan BARONG Grup

Iklan Semua Halaman

Post ADS 1

Header Menu

Tembakau Nusantara Menuju Panggung Dunia, Gus Lilur Luncurkan BARONG Grup

Kamis, 12 Maret 2026
Foto: NBI


JURNALREPORTASE.COM, KUALA LUMPUR - Perjalanan bisnis sering kali menyimpan cerita tak terduga. Bagi pengusaha asal Situbondo, Jawa Timur, HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur, sebuah perjalanan ekspedisi pasar justru melahirkan gagasan besar, yaitu menaklukkan pasar rokok dunia dari Indonesia.


Gagasan itu muncul ketika ia melakukan ekspedisi bisnis bertajuk Ekspedisi Pasar Rokok Asia–Australia. Dalam perjalanan tersebut, Gus Lilur bertemu sejumlah rekan bisnis dari delapan negara saat singgah di Kuala Lumpur. Diskusi yang berlangsung intens di ibu kota Malaysia itu berkembang jauh melampaui rencana awal pemasaran tembakau dan rokok Indonesia.


“Dalam trip saya melakukan Ekspedisi Pasar Rokok Asia Australia guna memasarkan tembakau Nusantara dan menjual rokok produksi Indonesia, saya bertemu beberapa kawan dari delapan negara di Kuala Lumpur,” ujar Gus Lilur.


Pertemuan lintas negara itu kemudian melahirkan sebuah keputusan strategis. Ia bersama para mitra bisnisnya sepakat membentuk induk perusahaan baru yang secara khusus diproyeksikan untuk menggarap pasar rokok global.


“Diskusi saya sama mereka membuahkan pembuatan induk perusahaan baru yang akan dikhususkan untuk menaklukkan pasar rokok global,” katanya.


Perusahaan tersebut diberi nama Bandar Rokok Nusantara Global Grup (BARONG GRUP). Menurut Gus Lilur, perusahaan itu bahkan dirancang dalam waktu singkat selama perjalanan bisnisnya.


“Perusahaan rokok itu baru saya bikin tadi malam dan akan dilegalisasi besok,” ungkapnya.


Bagi Gus Lilur, perjalanan tersebut bukan sekadar agenda bisnis, tetapi juga melahirkan tiga agenda ekspedisi besar yang akan menjadi fondasi ekspansi industri rokok Nusantara ke pasar internasional. Agenda pertama adalah EPARSIA Pasar Rokok, yaitu Ekspedisi Pasar Rokok Asia–Australia untuk memperluas jaringan distribusi. Agenda kedua adalah EPARSIA Pabrik Rokok Asia–Australia, yakni rencana pembangunan pabrik rokok di berbagai negara kawasan tersebut. Sementara agenda ketiga adalah EPARSIA Pabrik Rokok Indonesia–Dunia yang berorientasi pada pembangunan pabrik rokok berskala besar di Indonesia sekaligus di sejumlah negara lain.


Langkah tersebut, menurutnya, terinspirasi dari banyak perusahaan rokok raksasa dunia yang telah lebih dulu melakukan ekspansi global. Perusahaan-perusahaan itu tidak hanya kuat di negara asalnya, tetapi juga membangun jaringan produksi dan distribusi lintas negara.


“Ada beberapa raksasa perusahaan rokok dunia, besar di negaranya, ekspansi ke banyak negara, bahkan menjadi raksasa perusahaan rokok dan pabrik rokok di Indonesia,” ujarnya.


Fenomena itu justru memantik tekadnya untuk melakukan hal serupa dari Indonesia ke dunia. Gus Lilur menilai sudah saatnya anak bangsa berani mengambil peran yang sama dalam industri global.


“Jika orang dan perusahaan rokok dari luar Indonesia bisa mengangkangi pasar rokok di Republik Indonesia, sepantasnya ada anak bangsa yang mampu dan berani melakukan hal sama,” tegasnya.


Ia pun menegaskan ambisinya untuk memulai ekspansi global itu dari Indonesia dengan membangun pabrik rokok di berbagai negara.


“Bermula dari Indonesia menaklukkan pasar rokok dunia dengan membangun pabrik rokok di banyak negara,” katanya.


Menurutnya, kekuatan utama industri rokok Indonesia sebenarnya sudah tersedia sejak lama: tembakau Nusantara yang dikenal memiliki kualitas unggul di pasar dunia.


“Kunci utama bisnis rokok adalah tembakau. Republik Indonesia gudangnya tembakau nikmat,” ujarnya.


Ia menyebut sejumlah varietas tembakau Nusantara yang dinilai memiliki kualitas kelas dunia, mulai dari tembakau Lombok di Lombok yang dikenal sebagai salah satu varian Virginia Blend terbaik, tembakau Madura di Pulau Madura sebagai Oriental Blend unggulan, hingga tembakau Jember di Jember yang dikenal sebagai Burley Blend berkualitas.


Selain itu, ada pula tembakau Besuki di Situbondo, tembakau Deli di Deli, tembakau Srintil dari Temanggung, serta tembakau Lumajang di Lumajang yang menurutnya memiliki karakter rasa kuat untuk bersaing di pasar internasional.


Namun di balik potensi besar tersebut, Gus Lilur menyoroti ironi yang terjadi selama puluhan tahun di sektor tembakau nasional.


“Kalau tembakau Nusantara begitu istimewa, kenapa petani tembakau miskin puluhan tahun lamanya?” ujarnya.


Ia berharap ekspansi industri rokok berbasis tembakau Nusantara ke pasar global nantinya dapat menjadi jalan untuk meningkatkan kesejahteraan petani tembakau Indonesia.


“Pabrik rokoknya di banyak negara di dunia, tembakaunya dari Republik Indonesia. Petani tembakau insyaAllah berjaya,” kata dia.


Dari sebuah kamar hotel di JW Marriott Hotel Kuala Lumpur, Gus Lilur mengaku menutup malam itu dengan doa agar rencana besar tersebut dapat terwujud.


“Dari kamar 1803 Hotel JW Marriott Kuala Lumpur saya langitkan doa, semoga Allah memberikan ma’unah-Nya untuk membumikan semua rencana penaklukan pasar rokok dunia,” tuturnya.


Dengan semangat itu, ia berharap tembakau Nusantara tidak lagi hanya menjadi komoditas lokal, tetapi mampu menjadi kekuatan utama industri rokok dunia sekaligus mengangkat kesejahteraan jutaan petani tembakau Indonesia.  (Tr)