![]() |
| Foto: istimewa |
JURNALREPORTASE.COM, SURABAYA — Sebuah surat elektronik yang dikirim pengusaha nasional asal Situbondo, Khalilur R. Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur kepada Presiden RI Prabowo Subianto, berujung pada perubahan kebijakan di sektor perikanan. Respons pemerintah terhadap gagasan tersebut diwujudkan melalui terbitnya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 5 Tahun 2026.
Regulasi anyar ini merupakan revisi dari Permen KP Nomor 7 Tahun 2024 yang sebelumnya menuai kritik dari berbagai kalangan, termasuk dari Gus Lilur. Melalui surat elektronik yang dikirim langsung kepada Presiden, pemilik Balad Grup itu menyampaikan usulan strategis mengenai tata niaga lobster nasional, khususnya terkait ekspor Benih Bening Lobster (BBL).
Dalam suratnya, ia mendorong pemerintah menghentikan ekspor BBL ke Vietnam dan menggantinya dengan ekspor lobster yang telah dibesarkan hingga mencapai berat minimal 50 gram. Menurutnya, kebijakan tersebut akan memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi nelayan dan pelaku usaha budidaya di dalam negeri.
"Permen KP No. 5 Tahun 2026 adalah ide murni saya yang saya tulis di Surel Saya pada Presiden dan kawan-kawan wartawan publikasikan. Alhamdulillah, direspon positif Presiden dengan terbitnya Permen KP No.5 Tahun 2026," kata Gus Lilur dalam keterangannya, Kamis (5/3/2026).
Ia mengaku bersyukur gagasan yang disampaikannya mendapat perhatian dari pemerintah. Gus Lilur juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto yang dinilainya terbuka terhadap masukan dari masyarakat, termasuk dari kalangan pengusaha.
Ucapan terima kasih juga ia sampaikan kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono serta Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya Dr. Tubagus Haeru Rahayu yang telah mengkaji secara teknis usulan tersebut hingga akhirnya melahirkan kebijakan baru.
Menurutnya, langkah pemerintah merevisi aturan lama menunjukkan bahwa kepemimpinan nasional saat ini memiliki kepekaan terhadap persoalan riil di lapangan. Ia menilai Presiden Prabowo sebagai figur yang bersedia menerima ide-ide konstruktif demi kepentingan bangsa.
"Tentu ini menjadi angin segar bagi para pengusaha budidaya laut. Bukan hanya untuk Balad Grup tapi untuk semua pengusaha, termasuk juga para nelayan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih maksimal," ujar penulis buku Prabowo untuk Indonesia Raya tersebut.
Lebih jauh, Gus Lilur mengajak seluruh pemangku kepentingan di sektor perikanan untuk merespons kebijakan baru ini secara positif. Ia juga menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap praktik penyelundupan Benih Bening Lobster yang selama ini merugikan negara dan pelaku usaha yang patuh aturan.
Selain itu, ia mendorong nelayan dan pengusaha perikanan untuk mulai mengembangkan budidaya lobster di dalam negeri. Dengan adanya peluang ekspor lobster berukuran 50 gram, menurutnya nilai ekonomi yang diperoleh dapat meningkat signifikan dibandingkan hanya menjual benihnya.
Ia bahkan mengajak pelaku usaha dan nelayan untuk menangkap peluang pasar ekspor ke Vietnam dengan komoditas lobster yang sudah dibesarkan di dalam negeri.
"Ini momentum baik untuk semua stakeholder. Semua pihak harus secara cerdas merespon momentum ini. Ini bagian sumbangsih pemikirannya saya untuk bangsa," pungkas alumni santri Denanyar Jombang ini. (Tr)

Komentar