![]() |
| Foto: istimewa |
JURNALREPORTASE.COM - MANILA, FILIPINA - Pengusaha asal Situbondo, Jawa Timur, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur, menyiapkan langkah ekspansi besar di industri rokok nasional. Founder Owner BARONG Grup tersebut tengah merancang pengembangan usaha yang mencakup seluruh rantai industri, mulai dari tembakau, produksi rokok, hingga distribusi.
Menurut Gus Lilur, perjalanan dirinya sebagai pengusaha rokok dimulai dari membangun fondasi utama usaha, yakni kepemilikan perusahaan rokok, gudang tembakau, serta pabrik rokok. Dari fondasi itu, ia kemudian membangun struktur bisnis yang lebih luas dengan membentuk tiga jenis induk perusahaan yang menaungi sektor berbeda.
“Tiga jenis induk perusahaan itu adalah perusahaan rokok, perusahaan tembakau, dan perusahaan distribusi,” ujarnya.
Pada sektor industri rokok, saat ini terdapat enam induk perusahaan yang menjadi bagian dari jaringan usahanya. Lima perusahaan telah menyelesaikan seluruh proses legalitas, sementara satu perusahaan lainnya masih dalam tahap penyelesaian administrasi.
Sejumlah perusahaan tersebut antara lain Rokok Bintang Sembilan (RBS), Bandar Rokok Nusantara (BARON), Joko Tole Nusantara (JOLENTARA), Madura Tembakau Nusantara (MADANTARA), Bandar Rokok Nusantara Global (BARONG), serta Madura Indonesia Tembakau (MASAKU). Salah satu perusahaan bahkan telah memiliki pabrik rokok lengkap dengan berbagai fasilitas produksinya.
Tak hanya di sektor rokok, Gus Lilur juga membangun dua perusahaan induk di bidang tembakau, yakni Nusantara Global Tobacco (NGO) dan Bandar Tembakau Indonesia atau Bakau Indonesia. Sementara untuk menopang distribusi logistik, ia mendirikan perusahaan Angkut Barang Seluruh Nusantara yang disingkat ABANG SETARA.
Setelah tahapan legalitas usaha dinilai hampir rampung, Gus Lilur kini mulai menyiapkan ekspansi skala besar yang akan menjangkau berbagai wilayah penghasil tembakau di Indonesia.
“Saya merasa sudah selesai dengan persiapan tahap awal usaha, yaitu legalitas usaha. Langkah selanjutnya yang sedang saya siapkan adalah ekspansi usaha,” katanya.
Rencana ekspansi tersebut dimulai dari pembangunan gudang tembakau besar di 17 kabupaten yang tersebar di tiga provinsi, yakni Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Tengah. Daerah-daerah tersebut dipilih karena dikenal sebagai sentra tembakau nasional.
Beberapa wilayah yang masuk dalam rencana pembangunan gudang tembakau antara lain Sumenep, Pamekasan, Situbondo, Probolinggo, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Lombok Timur, Lombok Tengah, Mataram, Temanggung, Wonosobo, Demak, Kudus, Pati, Magelang, serta Jepara.
Seiring dengan pembangunan gudang tembakau tersebut, Gus Lilur juga merancang pembangunan 19 pabrik rokok berskala menengah hingga besar di berbagai daerah. Sebanyak 17 pabrik akan berada di wilayah yang memiliki gudang tembakau, sedangkan dua lainnya akan dibangun di Sidoarjo dan Malang.
Menurutnya, pabrik-pabrik tersebut diproyeksikan menjadi fasilitas produksi rokok level menengah hingga pabrik besar yang mampu bersaing di pasar internasional.
Namun Gus Lilur menegaskan bahwa rencana bisnis tersebut tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata. Ia ingin membangun ekosistem usaha yang memberi manfaat luas bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil dan petani tembakau.
“Obrolan di atas hanyalah obrolan ala pengusaha, pengusaha murni yang hanya berorientasi pada keuntungan. Tentu itu bukan saya,” ujarnya.
Ia pun mengungkapkan harapan agar usaha yang dirintisnya dapat menjadi jalan rezeki bagi banyak orang.
“Saya selalu berdoa pada Sang Kuasa agar Sang Pemilik Alam Semesta menitipkan rezeki miliaran hamba-Nya di tangan saya,” tuturnya.
Sebagai bagian dari konsep tersebut, Gus Lilur merencanakan pembentukan hingga 2.000 perusahaan rokok skala UMKM di berbagai daerah yang menjadi pusat tembakau. Setiap perusahaan rokok UMKM diperkirakan akan mempekerjakan sekitar 20 orang tenaga kerja.
Jika target tersebut tercapai, maka sedikitnya 40 ribu lapangan pekerjaan baru dapat tercipta dari sektor ini.
Ribuan perusahaan rokok UMKM itu nantinya akan menjalankan sistem produksi maklun dengan enam jenis rokok kretek yang menggunakan tembakau dari berbagai daerah di Indonesia, seperti tembakau Lombok, Madura, Jember, Banyuwangi, Situbondo, Lumajang hingga Temanggung.
Seluruh ekosistem tersebut akan dipadukan dengan keberadaan pabrik-pabrik besar yang menjadi tulang punggung produksi sekaligus penguatan pasar.
“Maka dari Republik Indonesia akan lahir pengusaha rokok raksasa yang akan mampu menjadi kaisar rokok dunia,” ujar Gus Lilur.
Ia mengungkapkan bahwa seluruh konsep strategi bisnis tersebut diselesaikannya saat berada di Manila, Filipina.
“Dari kamar 1210 Hotel Sheraton Manila Bay di Manila Filipina, pada hari Ahad 15 Maret 2026 pukul 12.24 waktu Manila, konsep strategi dan rencana usaha rokok untuk menjadi kaisar pengusaha rokok dunia saya selesaikan pembuatannya,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Gus Lilur menyampaikan harapan besar agar industri tembakau Indonesia semakin kuat dan memberi kesejahteraan bagi para petani.
“Saatnya petani tembakau Indonesia kaya. Saatnya rokok Indonesia berjaya. Saatnya Republik Indonesia jaya raya,” pungkasnya. (Rahman)

Komentar