Jelang Ramadhan, Ning Lia dan Khofifah Ziarah Keluarga: Refleksi, Doa, dan Pesan Cinta Sejati

Iklan Semua Halaman

Post ADS 1

Header Menu

Jelang Ramadhan, Ning Lia dan Khofifah Ziarah Keluarga: Refleksi, Doa, dan Pesan Cinta Sejati

Minggu, 15 Februari 2026
Foto: istimewa


JURNALREPORTASE.COM, SURABAYA - Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, memilih mengawali dengan langkah sunyi penuh makna. Sabtu (14/2), yang bertepatan dengan Hari Valentine, ia berziarah ke makam ayahandanya, KH Masykur Hasyim.


Bagi Ning Lia, sapaan akrabnya, hari kasih sayang bukan sekadar tentang bunga dan perayaan, melainkan tentang cinta yang lebih dalam: doa yang tak terputus untuk orang tua dan leluhur yang telah lebih dahulu berpulang. Ziarah itu menjadi ruang refleksi menjelang bulan penuh ampunan.


Dalam momen tersebut, Ning Lia turut mendampingi Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang juga merupakan tantenya. Kehadiran keduanya menambah khidmat suasana makam keluarga. Selain ke pusara sang ayah, Ning Lia juga berziarah ke makam kakak kandung, kakek, nenek, serta keluarga besar lainnya.


Dengan balutan kesederhanaan, senator yang dikenal humble itu menabur bunga di atas pusara ayahandanya. Lantunan doa mengalun pelan, menyatu dengan harap agar keluarga yang telah wafat mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.


Bagi Ning Lia, ziarah bukan sekadar tradisi tahunan menjelang Ramadan. Ia memaknainya sebagai bentuk bakti anak kepada orang tua, sekaligus ikhtiar spiritual memohon kekuatan, kesehatan, dan istiqamah dalam menjalankan amanah sebagai wakil daerah.


“Bagi saya, ziarah makam itu penting. Ini momentum untuk mendoakan orang tua dan mengingatkan diri bahwa kita pun akan menyusul. Ramadan adalah bulan penyucian jiwa, maka kita awali dengan doa dan refleksi,” ujarnya.


Ia pun mengutip hadis Rasulullah SAW dari Ma’qil bin Yasar RA, bahwa Nabi bersabda: “Bacakanlah atas orang yang mati di antara kamu dengan bacaan surah Yasin” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i).


Menurutnya, ziarah kubur memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam dan bukanlah bid’ah. Dalam kitab Bulughul-Maram karya Ibnu Hajar al-Asqalani dijelaskan bahwa Rasulullah kerap berziarah kubur semasa hidupnya, sebagaimana juga bersumber dari hadis hasan riwayat Imam Tirmidzi.


Dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW pernah melewati kuburan di Madinah dan mengucapkan: “Assalamualaikum ya ahlal-kubur, yaghfirullahu lana wa lakum antum salafuna wa nahnu bil-atsar”, yang artinya: “Keselamatan untuk kamu, wahai ahli kubur. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kami dan dosa-dosa kamu. Kamu telah mendahului kami dan kami pun akan menyusul kalian.”


Di tengah nuansa menjelang Ramadan, ziarah itu menjadi pengingat akan batas kehidupan. Bagi Ning Lia, tradisi ini bukan hanya tentang hubungan vertikal dengan Sang Pencipta, tetapi juga penguatan silaturahmi keluarga dan kesadaran akan tanggung jawab sebagai hamba Allah.


“Momentum tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa cinta sejati bukan sekadar simbol perayaan, tetapi juga doa yang tak pernah putus bagi orang-orang tercinta yang telah mendahului, serta perjuangannya,” katanya. (Red)