Hampir 70 Persen Ekonomi KUPS Jatim Ditopang Kopi, Lia Istifhama Serukan Pengembangan Komoditas Lain

Iklan Semua Halaman

Post ADS 1

Header Menu

Hampir 70 Persen Ekonomi KUPS Jatim Ditopang Kopi, Lia Istifhama Serukan Pengembangan Komoditas Lain

Senin, 15 Juni 2026
Foto: istimewa


JURNALREPORTASE.COM, SURABAYA - Kopi hutan semakin mengukuhkan posisinya sebagai motor penggerak ekonomi perhutanan sosial di Jawa Timur. Besarnya kontribusi komoditas ini tidak hanya mengangkat kesejahteraan masyarakat sekitar hutan, tetapi juga menempatkan Jawa Timur sebagai salah satu daerah terdepan dalam pengembangan perhutanan sosial di Indonesia.


Data Nilai Ekonomi (NEKON) Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Jawa Timur tahun 2025 menunjukkan bahwa kopi menyumbang 68,62 persen dari total transaksi ekonomi yang mencapai Rp447 miliar. Angka tersebut menjadikan kopi sebagai komoditas paling dominan dibanding puluhan produk lain yang dikembangkan kelompok-kelompok usaha perhutanan sosial.


Meski capaian tersebut menjadi kabar menggembirakan, Anggota DPD RI Lia Istifhama mengingatkan pentingnya membangun fondasi ekonomi yang lebih beragam. Menurutnya, ketergantungan berlebihan terhadap satu komoditas dapat menjadi tantangan tersendiri ketika pasar mengalami gejolak atau perubahan tren konsumsi.


“Dominasi kopi memang menunjukkan keberhasilan, tetapi ke depan perlu strategi penguatan komoditas lain agar ekonomi desa lebih tahan terhadap fluktuasi pasar,” ujarnya.


Pernyataan tersebut menjadi refleksi atas perkembangan perhutanan sosial di Jawa Timur yang terus tumbuh pesat. Saat ini terdapat 880 unit KUPS yang mengelola sedikitnya 62 jenis komoditas, mulai dari hasil hutan kayu, hasil hutan bukan kayu, hingga berbagai layanan berbasis jasa lingkungan. Namun demikian, kontribusi ekonomi dari komoditas selain kopi masih belum mampu menyamai besarnya peran kopi hutan.


Di tengah tingginya ketergantungan pada kopi, peluang pengembangan sektor lain dinilai masih sangat menjanjikan. Beragam potensi lokal yang tersebar di kawasan hutan Jawa Timur, seperti madu hutan, tanaman herbal, aneka produk turunan hasil hutan bukan kayu, hingga pengembangan ekowisata, dinilai memiliki prospek besar untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.


Kepala Dinas Kehutanan Jawa Timur, Jumadi, menegaskan bahwa diversifikasi menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi perhutanan sosial.


“Diversifikasi penting agar nilai ekonomi tidak hanya terpusat pada satu komoditas,” jelasnya.


Keberhasilan kopi hutan Jawa Timur sendiri telah mendapat pengakuan hingga pasar internasional. Melalui skema communal branding, produk kopi dari sejumlah daerah seperti Madiun, Jember, dan Jombang berhasil menembus pasar ekspor. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa produk yang lahir dari program perhutanan sosial memiliki daya saing tinggi dan mampu bersaing di pasar global.


Meski demikian, tantangan berikutnya tidak lagi hanya terletak pada peningkatan produksi. Penguatan sektor hilir, mulai dari pengolahan pascapanen, pengemasan produk, strategi branding, hingga perluasan akses pasar, menjadi pekerjaan rumah yang harus terus diperkuat agar nilai tambah ekonomi semakin dirasakan oleh petani hutan.


Dengan nilai transaksi ekonomi (NTE) yang telah mencapai Rp598 miliar atau setara 47,56 persen dari total capaian nasional pada tahun 2026, Jawa Timur kini menjelma sebagai barometer nasional dalam pengembangan perhutanan sosial. Di tengah dominasi kopi yang begitu kuat, upaya memperluas ragam usaha produktif diyakini menjadi kunci untuk menjaga ketahanan ekonomi desa, memperkuat kesejahteraan masyarakat sekitar hutan, sekaligus memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan di masa mendatang. (Rahman)