Di Tengah Dinamika Muktamar, Dua Tokoh NU Kalbar Klarifikasi Isu Pertemuan

Iklan Semua Halaman

Post ADS 1

Header Menu

Di Tengah Dinamika Muktamar, Dua Tokoh NU Kalbar Klarifikasi Isu Pertemuan

Jumat, 09 Oktober 2026

 

Dok: istimewa


JAKARTA, JURNALREPORTASE.COM – KH Muhammad Isma'il Ghofur, Rais Syuriyah PWNU Kalimantan Barat, dan H. Nazril Hijar, S.Ag., M.Pd., Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Kayong Utara, menyampaikan klarifikasi terkait informasi yang mengaitkan nama mereka dengan kegiatan di Gedung MPR RI dan Hotel Royal Kuningan pada 8 Agustus 2026.


Keduanya menegaskan tidak menghadiri Halaqoh Kebangsaan dan Silaturrahmi Alumni IKAPETE maupun pertemuan di Hotel Royal Kuningan pada tanggal tersebut. Klarifikasi disampaikan melalui surat pernyataan tertulis yang masing-masing diterbitkan pada 8 dan 9 Oktober 2026.


KH Muhammad Isma'il Ghofur, dalam surat pernyataan tertanggal 8 Oktober 2026, menyatakan tidak menghadiri kegiatan Halaqoh Kebangsaan dan Silaturrahmi Alumni IKAPETE di Gedung MPR RI. Ia juga menegaskan tidak mengikuti kegiatan tersebut melalui rombongan penerbangan Lion Air nomor IU 691 maupun dengan keberangkatan secara mandiri.


Pernyataan itu disampaikan untuk meluruskan informasi yang beredar di sejumlah media yang mencantumkan namanya seolah-olah menjadi bagian dari kegiatan tersebut.


Sementara itu, Nazril Hijar menjelaskan bahwa pada 8 Agustus 2026 dirinya berada di Kabupaten Kayong Utara untuk mengikuti penutupan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) ke-34 Provinsi Kalimantan Barat.


Melalui surat pernyataan tertanggal 9 Oktober 2026, ia menegaskan tidak menghadiri kegiatan di Gedung MPR RI maupun pertemuan di Hotel Royal Kuningan pada hari yang sama.


Nazril juga menjelaskan bahwa keikutsertaannya dalam kegiatan Muktamar Nahdlatul Ulama berlangsung pada 27–31 Agustus 2026, sesuai jadwal panitia di arena Muktamar. Di luar rangkaian kegiatan tersebut, ia menyatakan tidak mengikuti agenda lain maupun menghadiri pertemuan di hotel mana pun.


Klarifikasi kedua tokoh tersebut muncul di tengah dinamika Muktamar NU yang menjadi perhatian warga Nahdliyin. Dalam situasi seperti ini, kejelasan informasi mengenai kehadiran dan keterlibatan tokoh organisasi dinilai penting agar pemberitaan tidak berkembang menjadi kesalahpahaman.


Di sisi lain, menjaga kehormatan organisasi juga menjadi perhatian dalam menyikapi berbagai dinamika yang muncul. Dalam bahan pernyataan yang disampaikan, terdapat penegasan mengenai pentingnya menjaga marwah NU.


“Demi marwah NU, kami tidak ingin terlibat dalam agenda yang dapat menimbulkan polemik dan mempertanyakan integritas proses Muktamar. NU adalah amanah besar yang harus dijaga kehormatan dan martabatnya,” demikian narasi yang dicantumkan dalam bahan klarifikasi.


Pesan tersebut menekankan pentingnya menjaga kehormatan organisasi di tengah berbagai dinamika yang berkembang. Bagi NU, sebagai organisasi keagamaan dengan tradisi musyawarah yang kuat, integritas dan kepercayaan warga merupakan hal yang perlu terus dipelihara.


Meski demikian, klarifikasi mengenai ketidakhadiran kedua tokoh tersebut perlu ditempatkan sesuai substansinya. Adapun tujuan dan agenda pertemuan pada 8 Agustus 2026 masih memerlukan penjelasan dari pihak-pihak terkait agar publik mendapatkan informasi yang lengkap dan berimbang.


Melalui surat pernyataan tersebut, KH Muhammad Isma'il Ghofur dan Nazril Hijar berupaya meluruskan informasi yang mengaitkan nama mereka dengan kegiatan di Jakarta. Klarifikasi ini sekaligus menjadi penegasan mengenai posisi keduanya terkait agenda yang dipersoalkan. (Rahman)